an7.49:11.1 Jika, para bhikkhu, ketika seorang bhikkhu berdiam dengan pikiran yang sering diresapi oleh persepsi ketidak-kekalan, pikirannya tetap tertarik pada perolehan, penghormatan, dan ketenaran, dan tidak ada rasa jijik yang kokoh;
an7.49:11.2 maka, para bhikkhu, bhikkhu itu harus mengetahui: ‘Persepsi ketidak-kekalan belum kukembangkan, tidak ada bagiku kemajuan dari yang sebelumnya, kekuatan pengembangan belum kucapai.’
an7.49:11.3 Demikianlah ia menjadi bijaksana dalam hal itu.
an7.49:11.4 Tetapi jika, para bhikkhu, ketika seorang bhikkhu berdiam dengan pikiran yang sering diresapi oleh persepsi ketidak-kekalan, pikirannya mengerut, menguncup, dan berbalik dari perolehan, penghormatan, dan ketenaran, tidak mengembang, dan keseimbangan atau rasa jijik menjadi kokoh;
an7.49:11.5 maka, para bhikkhu, bhikkhu itu harus mengetahui: ‘Persepsi ketidak-kekalan telah kukembangkan dengan baik, ada bagiku kemajuan dari yang sebelumnya, kekuatan pengembangan telah kucapai.’
an7.49:11.6 Demikianlah ia menjadi bijaksana dalam hal itu.
an7.49:11.7 ‘Persepsi ketidak-kekalan, para bhikkhu, yang dikembangkan dan dilatih secara berulang-ulang, membawa buah besar, manfaat besar, berakar pada tanpa-kematian, dan berakhir pada tanpa-kematian.’
an7.49:11.8 Inilah yang kukatakan, dan karena inilah aku mengatakannya.
