Evaṁ me sutaṁ—
Demikianlah yang kudengar:
So I have heard.
Sutta Vassakāra
Sutta ini menyajikan sebuah dialog diplomatik yang sarat makna. Perhatikan bagaimana Buddha menjawab pertanyaan politik dengan ajaran tentang tata kelola yang baik, yang relevan tidak hanya untuk kerajaan kuno, tetapi juga untuk kehidupan berkomunitas hingga saat ini.
Raja Ajātasattu dari Magadha mengirim menterinya, Vassakāra, untuk menanyakan kepada Buddha apakah ia dapat menaklukkan suku Vajji. Buddha menjawab dengan mengajarkan tujuh prinsip yang mencegah kemunduran (aparihāniya dhammā) yang telah diajarkan-Nya kepada Vajji. Vassakāra mengakui bahwa selama Vajji menjalankan prinsip-prinsip ini, mereka tidak akan bisa dikalahkan dalam perang, kecuali melalui tipu muslihat atau perpecahan.
Evaṁ me sutaṁ—
Demikianlah yang kudengar:
So I have heard.
ekaṁ samayaṁ bhagavā rājagahe viharati gijjhakūṭe pabbate.
Pada suatu ketika, Sang Bhagavā sedang menetap di Rājagaha, di Puncak Gunung Vulture.
At one time the Buddha was staying near Rājagaha, on the Vulture’s Peak Mountain.
Tena kho pana samayena rājā māgadho ajātasattu vedehiputto vajjī abhiyātukāmo hoti.
Pada saat itu, Raja Ajātasattu dari Magadha, putra putri Videha, ingin menyerang para Vajji.
Now at that time King Ajātasattu of Magadha, son of the princess of Videha, wanted to invade the Vajjis.
So evamāha:
Ia berkata:
He said:
“ahaṁ hime vajjī evaṁmahiddhike evaṁmahānubhāve ucchecchāmi, vajjī vināsessāmi, vajjī anayabyasanaṁ āpādessāmī”ti.
“Aku akan melenyapkan para Vajji yang begitu perkasa dan kuat ini! Aku akan menghancurkan mereka, dan mendatangkan kehancuran serta kebinasaan atas mereka!”
“I shall wipe out these Vajjis, so mighty and powerful! I shall destroy them, and lay ruin and devastation upon them!”
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.