‹
AN 7.16

Aniccānupassīsutta

Sutta tentang Mengamati Ketidak-kekalan

Aṅguttara Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang

KENALI DUNIA AN 7.16

Kenali dunia dalam sutta ini

Sutta ini mengajak kita merenungkan betapa berharganya praktik kontemplasi ketidak-kekalan. Mari kita simak bagaimana Sang Buddha menguraikan tingkatan-tingkatan pencerahan yang dapat dicapai melalui pengamatan yang tekun terhadap fenomena yang berubah-ubah.

TOKOH & TEMPAT

Sinopsis singkat

Dalam sutta ini, Sang Buddha menjelaskan tujuh jenis individu yang layak menerima persembahan dan merupakan ladang jasa terbaik di dunia. Ketujuh individu tersebut adalah mereka yang dengan tekun mengamati ketidak-kekalan dalam segala fenomena terkondisi, dan mencapai berbagai tingkat pencerahan, mulai dari arahat hingga mereka yang akan terlahir kembali di alam Akaniṭṭha.

Pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.
an7.16:1.1

“Sattime, bhikkhave, puggalā āhuneyyā pāhuneyyā dakkhiṇeyyā añjalikaraṇīyā anuttaraṁ puññakkhettaṁ lokassa.

“Para bhikkhu, tujuh individu ini layak menerima persembahan yang dipersembahkan kepada para dewa, layak menerima keramahan, layak menerima dana keagamaan, layak menerima penghormatan dengan tangan bersikap añjali, dan merupakan ladang jasa yang tiada taranya bagi dunia.

“Mendicants, these seven individuals are worthy of offerings dedicated to the gods, worthy of hospitality, worthy of a religious donation, worthy of greeting with cupped palms, and are the supreme field of merit for the world.

an7.16:1.2

Katame satta?

Siapakah tujuh itu?

What seven?

an7.16:1.3

Idha, bhikkhave, ekacco puggalo sabbasaṅkhāresu aniccānupassī viharati, aniccasaññī, aniccapaṭisaṁvedī satataṁ samitaṁ abbokiṇṇaṁ cetasā adhimuccamāno paññāya pariyogāhamāno.

Di sini, para bhikkhu, seseorang berdiam dengan mengamati ketidak-kekalan dalam segala fenomena terkondisi, memiliki persepsi ketidak-kekalan, mengalami ketidak-kekalan, senantiasa, terus-menerus, tanpa henti, dengan pikiran yang bertekad dan menembusnya dengan kebijaksanaan.

First, take an individual who meditates observing impermanence in all conditions. They perceive impermanence and experience impermanence. Constantly, continually, and without interruption, they apply the mind and fathom with wisdom.

an7.16:1.4

So āsavānaṁ khayā …pe… sacchikatvā upasampajja viharati.

Dengan hancurnya kekotoran batin, ia telah merealisasikan kebebasan pikiran yang tanpa noda dan kebebasan melalui kebijaksanaan, dan berdiam setelah menyadarinya dengan pengetahuan langsungnya sendiri dalam kehidupan ini juga.

They’ve realized the undefiled freedom of heart and freedom by wisdom, and live having realized it with their own insight in this very life due to the ending of defilements.

an7.16:1.5

Ayaṁ, bhikkhave, paṭhamo puggalo āhuneyyo pāhuneyyo dakkhiṇeyyo añjalikaraṇīyo anuttaraṁ puññakkhettaṁ lokassa.

Ini, para bhikkhu, adalah individu pertama yang layak menerima persembahan yang dipersembahkan kepada para dewa, layak menerima keramahan, layak menerima dana keagamaan, layak menerima penghormatan dengan tangan bersikap añjali, dan merupakan ladang jasa yang tiada taranya bagi dunia.

This is the first individual.

TEKS DI TIGA KERANJANG
IndonesiaTersedia

Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.