Katamo ca, bhikkhave, saññānaṁ vipāko?
Dan apakah, para bhikkhu, akibat dari persepsi?
And what is the result of perceptions?
Sutta Penembus
Sutta ini adalah sebuah peta jalan yang sistematis. Mari kita telusuri bagaimana Sang Buddha membedah enam fondasi pengalaman kita—dari kenikmatan indria hingga penderitaan—dengan kerangka yang sama, untuk melihat bagaimana pemahaman yang mendalam menjadi kunci pembebasan.
Dalam sutta ini, Sang Buddha mengajarkan kepada para bhikkhu tentang 'penjelasan Dhamma yang menembus' (nibbedhikapariyāya). Beliau menguraikan enam hal mendasar—kenikmatan indria, perasaan, persepsi, noda batin, perbuatan, dan penderitaan—masing-masing dengan enam aspek: harus dipahami, sumbernya, keragamannya, akibatnya, lenyapnya, dan jalan menuju lenyapnya. Penjelasan ini menegaskan bahwa pemahaman mendalam atas keenam hal ini mengarah pada kehidupan spiritual yang menembus, yang berpuncak pada lenyapnya penderitaan.
Katamo ca, bhikkhave, saññānaṁ vipāko?
Dan apakah, para bhikkhu, akibat dari persepsi?
And what is the result of perceptions?
Vohāravepakkaṁ, bhikkhave, saññaṁ vadāmi.
Aku katakan, para bhikkhu, bahwa ucapan adalah akibat dari persepsi.
Communication is the result of perception, I say.
Yathā yathā naṁ sañjānāti tathā tathā voharati, evaṁ saññī ahosinti.
Dengan cara apa pun seseorang mempersepsikan sesuatu, demikianlah ia mengungkapkannya, dengan berkata: ‘Demikianlah aku mempersepsikannya.’
You communicate something in whatever manner you perceive it, saying ‘That’s what I perceived.’
Ayaṁ vuccati, bhikkhave, saññānaṁ vipāko.
Ini disebut, para bhikkhu, akibat dari persepsi.
This is called the result of perceptions.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.