Aṅguttara Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang
KENALI DUNIA AN 6.42
Kenali dunia dalam sutta ini
Sutta ini mengajak kita merenungkan prioritas dalam praktik spiritual: apakah kita mencari kenyamanan dan pengakuan dari luar, atau kedamaian batin yang lahir dari keterasingan dan pengendalian diri? Perhatikan bagaimana Sang Buddha dengan gamblang menggambarkan godaan ketenaran dan kebahagiaan sejati yang ditemukan dalam kesunyian.
Sang Buddha sedang berkelana di negeri Kosala bersama banyak bhikkhu dan tiba di desa brahmana Icchānaṅgala. Saat para penduduk desa datang membawa banyak persembahan makanan dan membuat keributan di luar gerbang, Sang Buddha berbicara kepada pelayannya, Yang Mulia Nāgita, tentang bahaya ketenaran dan keinginan untuk dihormati. Beliau menegaskan bahwa kebahagiaan sejati terletak pada pelepasan, keterasingan, kedamaian, dan pencerahan, bukan pada perolehan materi dan pujian. Beliau kemudian membandingkan berbagai kondisi bhikkhu—yang tinggal di desa versus di hutan—dan menyatakan kegembiraan-Nya pada mereka yang memilih keterasingan dan tekun dalam praktik meditasi.
Pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.
Di sini, Nāgita, aku melihat seorang bhikkhu yang berdiam di hutan, memperoleh jubah, makanan, tempat tinggal, serta obat-obatan dan perlengkapan bagi yang sakit.
Take a mendicant who I see in the wilderness receiving robes, almsfood, lodgings, and medicines and supplies for the sick.
So taṁ lābhasakkārasilokaṁ paṭipaṇāmetvā na riñcati paṭisallānaṁ na riñcati araññavanapatthāni pantāni senāsanāni.
Ia, setelah menolak perolehan, penghormatan, dan ketenaran itu, tidak mengabaikan pengasingan diri, tidak mengabaikan tempat tinggal terpencil di hutan dan belantara.
Fending off possessions, honor, and popularity they don’t neglect retreat, and they don’t neglect remote lodgings in the wilderness and the forest.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.