an6.30:7.1 Tetapi bagaimanakah perenungan yang tak terlampaui itu?
an6.30:7.2 Di sini, para bhikkhu, seseorang merenungkan perolehan anak, merenungkan perolehan istri, merenungkan perolehan kekayaan, atau merenungkan berbagai macam perolehan; atau ia merenungkan seorang petapa atau brahmana yang berpandangan salah dan berperilaku salah.
an6.30:7.3 Ada perenungan demikian, para bhikkhu, Aku katakan itu tidak tidak ada.
an6.30:7.4 Akan tetapi, para bhikkhu, perenungan itu rendah, kasar, duniawi, tidak mulia, dan tidak bermanfaat. Ia tidak mengarah pada kekecewaan, pada kebosanan, pada lenyapnya, pada ketenangan, pada pengetahuan langsung, pada pencerahan, pada Nibbāna.
an6.30:7.5 Tetapi, para bhikkhu, ketika seseorang dengan keyakinan yang mantap dan kasih sayang yang mantap, yang telah mencapai kepastian dan berkeyakinan teguh, merenungkan Sang Tathāgata atau seorang siswa Tathāgata—inilah yang tak terlampaui, para bhikkhu, di antara perenungan-perenungan, yang mengarah pada pemurnian makhluk-makhluk, pada penaklukan kesedihan dan ratapan, pada padamnya penderitaan dan ketidak-senangan, pada pencapaian jalan yang benar, pada realisasi Nibbāna, yaitu ketika seseorang dengan keyakinan yang mantap dan kasih sayang yang mantap, yang telah mencapai kepastian dan berkeyakinan teguh, merenungkan Sang Tathāgata atau seorang siswa Tathāgata.
an6.30:7.6 Ini disebut perenungan yang tak terlampaui, para bhikkhu.
