an6.19:8.1 Evaṁ vutte, bhagavā te bhikkhū etadavoca:
an6.19:8.2 “yo cāyaṁ, bhikkhave, bhikkhu evaṁ maraṇassatiṁ bhāveti:
an6.19:8.3 ‘aho vatāhaṁ rattindivaṁ jīveyyaṁ, bhagavato sāsanaṁ manasi kareyyaṁ, bahu vata me kataṁ assā’ti.
Khotbah tentang Perhatian pada Kematian (1)
Sutta ini mengajak kita merenungkan bagaimana kita memandang kematian dalam praktik spiritual. Perhatikan baik-baik berbagai jawaban para bhikkhu dan bagaimana Sang Buddha menilainya, karena hal ini menyentuh inti dari ketekunan dan kesadaran akan singkatnya hidup.
Sang Buddha menanyakan kepada para bhikkhu apakah mereka mengembangkan perhatian pada kematian. Beberapa bhikkhu menjawab dengan berbagai cara, mulai dari mengharapkan hidup satu hari satu malam hingga hanya selama satu tarikan napas. Sang Buddha kemudian menilai bahwa mereka yang berlatih dengan kerangka waktu lebih pendek disebut berdiam dengan tekun dan mengembangkan perhatian pada kematian secara tajam demi hancurnya kekotoran batin, sementara yang lainnya disebut lengah.
an6.19:8.1 Evaṁ vutte, bhagavā te bhikkhū etadavoca:
an6.19:8.2 “yo cāyaṁ, bhikkhave, bhikkhu evaṁ maraṇassatiṁ bhāveti:
an6.19:8.3 ‘aho vatāhaṁ rattindivaṁ jīveyyaṁ, bhagavato sāsanaṁ manasi kareyyaṁ, bahu vata me kataṁ assā’ti.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.