an6.10:6.1 Selanjutnya, Mahānāma, seorang siswa mulia mengingat kedermawanannya sendiri:
an6.10:6.2 ‘Sungguh suatu perolehan bagiku, sungguh suatu perolehan yang baik bagiku.
an6.10:6.3 Di tengah orang-orang yang diliputi noda kekikiran, aku berdiam di rumah dengan hati yang telah bebas dari noda kekikiran, dermawan dengan bebas, berhati terbuka, senang melepaskan, siap menerima permintaan, dan bergembira dalam memberi serta berbagi.’
an6.10:6.4 Ketika, Mahānāma, seorang siswa mulia mengingat kedermawanannya, pada saat itu pikirannya tidak diliputi oleh nafsu, tidak diliputi oleh kebencian, tidak diliputi oleh delusi;
an6.10:6.5 pada saat itu pikirannya menjadi lurus semata-mata dengan merenungkan kedermawanan.
an6.10:6.6 Dan siswa mulia yang pikirannya lurus, Mahānāma, memperoleh makna yang mendalam, memperoleh pemahaman Dhamma, memperoleh kegembiraan yang selaras dengan Dhamma.
an6.10:6.7 Pada orang yang bergembira, muncullah sukacita; pada orang yang bersukacita, tubuh menjadi tenang; pada orang yang tubuhnya tenang, timbul kebahagiaan; pada orang yang bahagia, pikirannya menjadi terkonsentrasi.
an6.10:6.8 Ini disebut, Mahānāma:
an6.10:6.9 ‘seorang siswa mulia yang berdiam dalam keseimbangan di tengah orang-orang yang tidak seimbang, dan berdiam tanpa gangguan di tengah orang-orang yang terganggu. Ia telah memasuki arus Dhamma dan mengembangkan pengingatan akan kedermawanan.’
