an6.10:5.1 Selanjutnya, Mahānāma, seorang siswa mulia mengingat moralitasnya sendiri yang tidak terputus, tidak retak, tidak bernoda, tidak bercacat, membebaskan, dipuji oleh para bijaksana, tidak tercemar, dan mengarah pada konsentrasi.
an6.10:5.2 Ketika, Mahānāma, seorang siswa mulia mengingat moralitas, pada saat itu pikirannya tidak dikuasai oleh nafsu, tidak dikuasai oleh kebencian, tidak dikuasai oleh delusi;
an6.10:5.3 pada saat itu pikirannya menjadi lurus, dengan moralitas sebagai objeknya.
an6.10:5.4 Dengan pikiran yang lurus, Mahānāma, seorang siswa mulia memperoleh pemahaman akan makna, memperoleh pemahaman akan Dhamma, memperoleh kegembiraan yang berhubungan dengan Dhamma.
an6.10:5.5 Pada yang bersuka cita, muncullah kegembiraan; pada yang pikirannya gembira, tubuh menjadi tenang; yang tubuhnya tenang merasakan kebahagiaan; yang bahagia pikirannya menjadi terkonsentrasi.
an6.10:5.6 Ini disebut, Mahānāma:
an6.10:5.7 ‘seorang siswa mulia yang berdiam dalam keseimbangan di tengah orang-orang yang tidak seimbang, dan berdiam tanpa gangguan di tengah orang-orang yang terganggu. Ia telah memasuki arus Dhamma dan mengembangkan pengingatan pada moralitas’.”
