an5.77:7.1 Imāni kho, bhikkhave, pañca anāgatabhayāni sampassamānena alameva āraññikena bhikkhunā appamattena ātāpinā pahitattena viharituṁ appattassa pattiyā anadhigatassa adhigamāya asacchikatassa sacchikiriyāyā”ti.
an5.77:7.2 Sattamaṁ.
Paṭhamaanāgatabhayasutta
Dalam sutta ini, Sang Buddha mengajak para bhikkhu untuk melihat kehidupan di hutan dengan jujur, termasuk risikonya. Mari kita simak bagaimana perenungan tentang bahaya justru menjadi bahan bakar semangat spiritual.
Dalam khotbah ini, Sang Buddha menjelaskan lima bahaya masa depan yang mungkin dihadapi oleh seorang bhikkhu yang memilih hidup menyendiri di hutan. Bahaya-bahaya tersebut—seperti gigitan ular, kecelakaan, serangan binatang buas, perjumpaan dengan penjahat, dan makhluk halus—dijadikan sebagai perenungan untuk membangkitkan semangat dan ketekunan dalam mencapai tujuan spiritual yang belum tercapai.
an5.77:7.1 Imāni kho, bhikkhave, pañca anāgatabhayāni sampassamānena alameva āraññikena bhikkhunā appamattena ātāpinā pahitattena viharituṁ appattassa pattiyā anadhigatassa adhigamāya asacchikatassa sacchikiriyāyā”ti.
an5.77:7.2 Sattamaṁ.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.