Na tāva, bhikkhave, akusalassa samāpatti hoti yāva paññā paccupaṭṭhitā hoti kusalesu dhammesu.
Para bhikkhu, selama kebijaksanaan masih tegak dalam kualitas-kualitas yang baik, maka tidak ada pencapaian yang tidak baik.
Khotbah tentang Pencapaian
Sutta ini adalah khotbah pendek dan berulang yang mengajak kita merenungkan kualitas-kualitas batin apa yang sedang kita rawat. Perhatikan bagaimana setiap kualitas baik memiliki lawan yang dapat menguasai kita saat kualitas itu melemah.
Dalam khotbah singkat ini, Sang Buddha menjelaskan kepada para bhikkhu bahwa seseorang tidak akan jatuh ke dalam kondisi tidak baik selama lima kualitas—keyakinan, rasa malu, rasa takut akan akibat perbuatan salah, energi, dan kebijaksanaan—masih tegak dalam kualitas-kualitas yang baik. Namun, ketika masing-masing kualitas ini lenyap dan digantikan oleh lawannya, maka seseorang menjadi tidak baik. Kotbah ini menekankan pentingnya mempertahankan kelima kualitas ini sebagai penjaga dari kemunduran batin.
Na tāva, bhikkhave, akusalassa samāpatti hoti yāva paññā paccupaṭṭhitā hoti kusalesu dhammesu.
Para bhikkhu, selama kebijaksanaan masih tegak dalam kualitas-kualitas yang baik, maka tidak ada pencapaian yang tidak baik.
Yato ca kho, bhikkhave, paññā antarahitā hoti, duppaññā pariyuṭṭhāya tiṭṭhati;
Tetapi ketika kebijaksanaan lenyap dan kebodohan menguasai,
But when wisdom vanishes and witlessness takes over,
atha akusalassa samāpatti hotī”ti.
maka terjadilah pencapaian yang tidak baik.”
you become unskillful.”
Chaṭṭhaṁ.
Ke enam.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.