‹
AN 5.57

Abhiṇhapaccavekkhitabbaṭhānasutta

Sutta tentang Hal-Hal yang Perlu Direnungkan Secara Teratur

Aṅguttara Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang

KENALI DUNIA AN 5.57

Kenali dunia dalam sutta ini

Sutta ini mengajak kita untuk merenungkan hal-hal yang seringkali kita hindari: usia tua, sakit, kematian, perpisahan, dan tanggung jawab atas perbuatan sendiri. Alih-alih membuat kita takut, perenungan ini justru dimaksudkan sebagai alat untuk melonggarkan cengkeraman keangkuhan dan kemelekatan, membuka ruang bagi kebijaksanaan dan kehidupan yang lebih otentik.

TOKOH & TEMPAT

Sinopsis singkat

Sutta ini berisi ajaran Buddha tentang lima hal yang sebaiknya sering direnungkan oleh setiap orang, baik perempuan maupun laki-laki, baik yang berumah tangga maupun yang telah meninggalkan keduniawian. Kelima hal tersebut adalah: renta terhadap penuaan, renta terhadap penyakit, renta terhadap kematian, harus berpisah dari yang dicintai, dan menjadi pewaris perbuatan sendiri. Buddha menjelaskan manfaat dari setiap perenungan ini, terutama untuk meredakan keangkuhan dan nafsu yang dapat menyebabkan perbuatan buruk, serta bagaimana perenungan ini dapat menuntun pada munculnya jalan menuju kebebasan dari belenggu dan kecenderungan tersembunyi.

Pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.
an5.57:4.1

Kiñca, bhikkhave, atthavasaṁ paṭicca ‘maraṇadhammomhi, maraṇaṁ anatīto’ti abhiṇhaṁ paccavekkhitabbaṁ itthiyā vā purisena vā gahaṭṭhena vā pabbajitena vā?

Apakah, para bhikkhu, manfaat yang diperoleh dengan sering merenungkan: ‘Aku tunduk pada kematian, aku belum melampaui kematian’—baik bagi perempuan maupun laki-laki, baik bagi perumah tangga maupun yang telah meninggalkan keduniawian?

What is the advantage of often reviewing this: ‘I am liable to die, I am not exempt from death’?

an5.57:4.2

Atthi, bhikkhave, sattānaṁ jīvite jīvitamado, yena madena mattā kāyena duccaritaṁ caranti, vācāya duccaritaṁ caranti, manasā duccaritaṁ caranti.

Ada, para bhikkhu, makhluk-makhluk yang mabuk oleh kemabukan kehidupan, dan karena mabuk itu mereka melakukan perbuatan buruk melalui jasmani, melalui ucapan, dan melalui pikiran.

There are sentient beings who, drunk on the vanity of life, do bad things by way of body, speech, and mind.

an5.57:4.3

Tassa taṁ ṭhānaṁ abhiṇhaṁ paccavekkhato yo jīvite jīvitamado so sabbaso vā pahīyati tanu vā pana hoti.

Bagi seseorang yang sering merenungkan hal ini, kemabukan kehidupan itu akan lenyap sepenuhnya atau menjadi berkurang.

Reviewing this subject often, they entirely give up the vanity of life, or at least reduce it.

an5.57:4.4

Idaṁ kho, bhikkhave, atthavasaṁ paṭicca ‘maraṇadhammomhi, maraṇaṁ anatīto’ti abhiṇhaṁ paccavekkhitabbaṁ itthiyā vā purisena vā gahaṭṭhena vā pabbajitena vā.

Inilah, para bhikkhu, manfaat yang diperoleh dengan sering merenungkan: ‘Aku tunduk pada kematian, aku belum melampaui kematian’—baik bagi perempuan maupun laki-laki, baik bagi perumah tangga maupun yang telah meninggalkan keduniawian.

This is the advantage of often reviewing this: ‘I am liable to die, I am not exempt from death’.

TEKS DI TIGA KERANJANG
IndonesiaTersedia

Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.