Yato ca kho paṇḍito āpadāsu,
Tetapi ketika seorang bijaksana tidak goyah dalam menghadapi kemalangan,
When an astute person doesn’t waver <j>in the face of adversity,
Hal-Hal yang Tidak Dapat Diperoleh
Sutta ini mengajak kita merenungkan kenyataan hidup yang tak terelakkan. Mari kita simak bagaimana Sang Buddha membedakan dua cara menyikapi kehilangan dan perubahan, serta pelajaran berharga tentang kebijaksanaan dalam menghadapi cobaan.
Dalam khotbah ini, Sang Buddha mengajarkan tentang lima hal yang tidak dapat diperoleh oleh siapa pun di dunia: tidak menjadi tua, tidak sakit, tidak mati, tidak hancur, dan tidak musnah. Beliau membedakan antara orang awam yang tidak terpelajar, yang bersedih dan menyiksa diri ketika menghadapi hal-hal tersebut, dengan siswa mulia yang terpelajar, yang merenungkan sifat universal dari fenomena ini dan tidak bersedih, sehingga terbebas dari anak panah kesedihan.
Yato ca kho paṇḍito āpadāsu,
Tetapi ketika seorang bijaksana tidak goyah dalam menghadapi kemalangan,
When an astute person doesn’t waver <j>in the face of adversity,
Na vedhatī atthavinicchayaññū;
tidak gemetar, karena ia mengetahui apa yang bermanfaat;
as they’re able to evaluate what’s beneficial,
Paccatthikāssa dukhitā bhavanti,
musuh-musuhnya menjadi menderita,
their enemies suffer,
Disvā mukhaṁ avikāraṁ purāṇaṁ.
melihat bahwa ekspresi wajahnya yang biasa tidak berubah.
seeing that their normal expression doesn’t change.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.