Katamañca, bhikkhave, cāgadhanaṁ?
Dan apakah, para bhikkhu, kekayaan kedermawanan itu?
And what is the wealth of generosity?
Kekayaan
Sutta ini mengajak kita merenungkan kembali makna kekayaan. Mari kita simak penjelasan Sang Buddha tentang lima harta batin yang tak ternilai ini.
Dalam khotbah singkat ini, Sang Buddha menjelaskan kepada para bhikkhu tentang lima jenis kekayaan sejati yang dimiliki oleh seorang siswa mulia: kekayaan keyakinan, moralitas, pembelajaran, kedermawanan, dan kebijaksanaan. Setiap jenis kekayaan diuraikan secara ringkas, menekankan bahwa kekayaan batiniah ini adalah milik yang tidak dapat dirampas dan menjadi landasan kehidupan yang bermakna.
Katamañca, bhikkhave, cāgadhanaṁ?
Dan apakah, para bhikkhu, kekayaan kedermawanan itu?
And what is the wealth of generosity?
Idha, bhikkhave, ariyasāvako vigatamalamaccherena cetasā agāraṁ ajjhāvasati muttacāgo payatapāṇi vosaggarato yācayogo dānasaṁvibhāgarato.
Di sini, para bhikkhu, seorang siswa mulia berdiam di rumah dengan pikiran yang bersih dari noda kekikiran, dermawan dengan bebas, berhati terbuka, senang melepaskan, siap melayani permintaan, senang berbagi dan memberi.
It’s when a noble disciple lives at home with heart rid of the stain of stinginess, freely generous, open-handed, loving to let go, committed to charity, loving to give and to share.
Idaṁ vuccati, bhikkhave, cāgadhanaṁ.
Ini, para bhikkhu, disebut kekayaan kedermawanan.
This is called the wealth of generosity.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.