an5.30:5.0 Tassuddānaṁ
an5.30:5.1 Dve agāravupakkilesā,
an5.30:5.2 Dussīlānuggahitena ca;
an5.30:5.3 Vimuttisamādhipañcaṅgikā,
an5.30:5.4 Caṅkamaṁ nāgitena cāti.
Dengan Nāgita
Dalam sutta ini, kita menyaksikan momen tenang di tengah keramaian. Sang Buddha menggunakan kesempatan ini untuk mengajarkan Nāgita—dan kita—tentang apa yang benar-benar berharga dalam praktik spiritual, serta bagaimana melihat segala sesuatu dengan bijaksana.
Sang Buddha sedang berkelana di negeri Kosala dan singgah di dekat desa brahmana Icchānaṅgala. Banyak penduduk desa datang membawa makanan dan membuat keributan di luar gerbang. Melihat hal ini, Sang Buddha menyampaikan kepada pelayannya, Yang Mulia Nāgita, bahwa Ia tidak menginginkan ketenaran dan lebih menghargai kebahagiaan batin dari pelepasan, keterasingan, dan kedamaian. Beliau kemudian menjelaskan akibat-akibat alami dari berbagai hal, seperti makanan yang menjadi kotoran dan keterikatan yang melahirkan duka, serta manfaat dari melatih persepsi yang benar.
an5.30:5.0 Tassuddānaṁ
an5.30:5.1 Dve agāravupakkilesā,
an5.30:5.2 Dussīlānuggahitena ca;
an5.30:5.3 Vimuttisamādhipañcaṅgikā,
an5.30:5.4 Caṅkamaṁ nāgitena cāti.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.