Katamañca, bhikkhave, ottappabalaṁ?
Dan apakah, para bhikkhu, kekuatan rasa takut akan akibat buruk?
And what is the power of prudence?
Rincian
Sutta ini mengajak kita merenungkan kualitas-kualitas batin yang menopang perjalanan spiritual. Mari kita simak bagaimana Sang Buddha merinci lima kekuatan yang menjadi penopang seorang pelatih, dan renungkan bagaimana kita dapat mengembangkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam sutta ini, Sang Buddha menjelaskan secara terperinci lima kekuatan yang dimiliki oleh seorang pelatih (sekha), yaitu kekuatan keyakinan, rasa malu, rasa takut akan akibat buruk, usaha, dan kebijaksanaan. Beliau menguraikan masing-masing kekuatan dengan definisi yang jelas, kemudian mendorong para bhikkhu untuk melatih diri agar memiliki kelima kekuatan tersebut.
Katamañca, bhikkhave, ottappabalaṁ?
Dan apakah, para bhikkhu, kekuatan rasa takut akan akibat buruk?
And what is the power of prudence?
Idha, bhikkhave, ariyasāvako ottappī hoti, ottappati kāyaduccaritena vacīduccaritena manoduccaritena, ottappati pāpakānaṁ akusalānaṁ dhammānaṁ samāpattiyā.
Di sini, para bhikkhu, seorang siswa mulia memiliki rasa takut akan akibat buruk; ia takut akan perbuatan buruk melalui jasmani, ucapan, dan pikiran; ia takut akan tercapainya kualitas-kualitas buruk dan tidak terampil.
It’s when a noble disciple is prudent. They’re prudent when it comes to bad conduct by way of body, speech, and mind, and prudent when it comes to acquiring any bad, unskillful qualities.
Idaṁ vuccati, bhikkhave, ottappabalaṁ.
Ini, para bhikkhu, disebut kekuatan rasa takut akan akibat buruk.
This is called the power of prudence.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.