an5.249:1.1 “Pañcime, bhikkhave, ādīnavā sivathikāya.
an5.249:1.2 Katame pañca?
an5.249:1.3 Asuci, duggandhā, sappaṭibhayā, vāḷānaṁ amanussānaṁ āvāso, bahuno janassa ārodanā—
an5.249:1.4 ime kho, bhikkhave, pañca ādīnavā sivathikāya.
Khotbah tentang Tanah Pemakaman
Sutta ini menggunakan perumpamaan yang kuat dan gamblang untuk merenungkan akibat dari perilaku tidak bermoral. Mari kita simak bagaimana Buddha memadankan gambaran tanah pemakaman yang mengerikan dengan kondisi batin dan sosial seseorang yang hidup dalam perilaku buruk.
Buddha mengajarkan perumpamaan tentang tanah pemakaman (sivathika) yang memiliki lima bahaya: kotor, berbau busuk, menakutkan, tempat tinggal makhluk buas, dan tempat ratapan. Ia kemudian menyamakan lima bahaya tersebut dengan lima kondisi buruk yang melekat pada seseorang yang berperilaku buruk melalui tubuh, ucapan, dan pikiran.
an5.249:1.1 “Pañcime, bhikkhave, ādīnavā sivathikāya.
an5.249:1.2 Katame pañca?
an5.249:1.3 Asuci, duggandhā, sappaṭibhayā, vāḷānaṁ amanussānaṁ āvāso, bahuno janassa ārodanā—
an5.249:1.4 ime kho, bhikkhave, pañca ādīnavā sivathikāya.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.