“Pañcime, bhikkhave, ādīnavā sivathikāya.
"Para bhikkhu, ada lima bahaya pada tanah pemakaman.
“Mendicants, there are these five drawbacks to a charnel ground.
Khotbah tentang Tanah Pemakaman
Sutta ini menggunakan perumpamaan yang kuat dan gamblang untuk merenungkan akibat dari perilaku tidak bermoral. Mari kita simak bagaimana Buddha memadankan gambaran tanah pemakaman yang mengerikan dengan kondisi batin dan sosial seseorang yang hidup dalam perilaku buruk.
Buddha mengajarkan perumpamaan tentang tanah pemakaman (sivathika) yang memiliki lima bahaya: kotor, berbau busuk, menakutkan, tempat tinggal makhluk buas, dan tempat ratapan. Ia kemudian menyamakan lima bahaya tersebut dengan lima kondisi buruk yang melekat pada seseorang yang berperilaku buruk melalui tubuh, ucapan, dan pikiran.
“Pañcime, bhikkhave, ādīnavā sivathikāya.
"Para bhikkhu, ada lima bahaya pada tanah pemakaman.
“Mendicants, there are these five drawbacks to a charnel ground.
Katame pañca?
Apakah lima itu?
What five?
Asuci, duggandhā, sappaṭibhayā, vāḷānaṁ amanussānaṁ āvāso, bahuno janassa ārodanā—
Tanah pemakaman itu kotor, berbau busuk, menakutkan, menjadi tempat tinggal makhluk-makhluk buas dan bukan manusia, serta menjadi tempat ratapan banyak orang.
It’s filthy, stinking, frightening, a gathering place for savage monsters, and a weeping place for many people.
ime kho, bhikkhave, pañca ādīnavā sivathikāya.
Inilah, para bhikkhu, lima bahaya pada tanah pemakaman."
These are the five drawbacks of a charnel ground.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.