an5.230:1.1 “Pañcime, bhikkhave, ādīnavā kaṇhasappe.
an5.230:1.2 Katame pañca?
an5.230:1.3 Kodhano, upanāhī, ghoraviso, dujjivho, mittadubbhī.
an5.230:1.4 Ime kho, bhikkhave, pañca ādīnavā kaṇhasappe.
Khotbah tentang Ular Hitam (Ke-2)
Dalam sutta ini, Sang Buddha menggunakan perumpamaan ular hitam untuk menggambarkan bahaya-bahaya tertentu. Mari kita simak bagaimana beliau merinci lima bahaya tersebut dan apa maknanya ketika diterapkan pada manusia.
Dalam khotbah ini, Sang Buddha menyampaikan kepada para bhikkhu tentang lima bahaya yang terdapat pada seekor ular hitam, yaitu pemarah, pendendam, berbisa mematikan, berlidah bercabang, dan berkhianat. Beliau kemudian menganalogikan lima bahaya tersebut dengan seorang perempuan, dengan penjelasan lebih lanjut mengenai sifat berbisa, lidah bercabang, dan pengkhianatan yang dihubungkan dengan nafsu kuat, suka memfitnah, dan berselingkuh.
an5.230:1.1 “Pañcime, bhikkhave, ādīnavā kaṇhasappe.
an5.230:1.2 Katame pañca?
an5.230:1.3 Kodhano, upanāhī, ghoraviso, dujjivho, mittadubbhī.
an5.230:1.4 Ime kho, bhikkhave, pañca ādīnavā kaṇhasappe.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.