an5.197:3.1 Puna caparaṁ, bhikkhave, rāhu asurindo pāṇinā udakaṁ sampaṭicchitvā mahāsamudde chaḍḍeti.
an5.197:3.2 Ayaṁ, bhikkhave, tatiyo vassassa antarāyo, yaṁ nemittā na jānanti, yattha nemittānaṁ cakkhu na kamati.
Sutta tentang Rintangan Hujan
Sutta ini mengajak kita merenungkan keterbatasan pengetahuan manusia dan berbagai faktor yang memengaruhi alam, termasuk dimensi moral dan spiritual yang mungkin tidak terlihat oleh mata biasa.
Dalam sutta ini, Sang Buddha menjelaskan kepada para bhikkhu tentang lima rintangan hujan yang tidak diketahui oleh para peramal cuaca. Kelima rintangan tersebut adalah berkobarnya unsur api dan angin di langit atas, Rāhu sang raja asura yang menampung air lalu membuangnya ke samudra, para dewa awan hujan yang lengah, dan manusia yang menjadi tidak bermoral. Sutta ini menekankan keterbatasan pengetahuan manusia dan adanya faktor-faktor di luar kendali yang memengaruhi fenomena alam.
an5.197:3.1 Puna caparaṁ, bhikkhave, rāhu asurindo pāṇinā udakaṁ sampaṭicchitvā mahāsamudde chaḍḍeti.
an5.197:3.2 Ayaṁ, bhikkhave, tatiyo vassassa antarāyo, yaṁ nemittā na jānanti, yattha nemittānaṁ cakkhu na kamati.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.