Puna caparaṁ, bhikkhave, vassavalāhakā devā pamattā honti.
Kemudian, para bhikkhu, para dewa awan hujan menjadi lengah.
Furthermore, the gods of the rain clouds become negligent.
Sutta tentang Rintangan Hujan
Sutta ini mengajak kita merenungkan keterbatasan pengetahuan manusia dan berbagai faktor yang memengaruhi alam, termasuk dimensi moral dan spiritual yang mungkin tidak terlihat oleh mata biasa.
Dalam sutta ini, Sang Buddha menjelaskan kepada para bhikkhu tentang lima rintangan hujan yang tidak diketahui oleh para peramal cuaca. Kelima rintangan tersebut adalah berkobarnya unsur api dan angin di langit atas, Rāhu sang raja asura yang menampung air lalu membuangnya ke samudra, para dewa awan hujan yang lengah, dan manusia yang menjadi tidak bermoral. Sutta ini menekankan keterbatasan pengetahuan manusia dan adanya faktor-faktor di luar kendali yang memengaruhi fenomena alam.
Puna caparaṁ, bhikkhave, vassavalāhakā devā pamattā honti.
Kemudian, para bhikkhu, para dewa awan hujan menjadi lengah.
Furthermore, the gods of the rain clouds become negligent.
Ayaṁ, bhikkhave, catuttho vassassa antarāyo, yaṁ nemittā na jānanti, yattha nemittānaṁ cakkhu na kamati.
Ini, para bhikkhu, adalah rintangan hujan yang keempat, yang tidak diketahui oleh para peramal cuaca, yang tidak dapat ditembus oleh mata para peramal cuaca itu.
This is the fourth obstacle to rain …
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.