“Pañcime, bhikkhave, paṁsukūlikā.
“Para bhikkhu, ada lima jenis pemakai jubah kain kotor.
“Mendicants, these five wear rag robes.
Sutta tentang Jubah
Sutta ini mengajak kita merenungkan bahwa penampilan luar dalam praktik spiritual bisa menutupi motivasi yang beragam. Mari kita simak bagaimana Sang Buddha mengklasifikasikan lima jenis pemakai jubah kain kotor ini.
Dalam sutta ini, Sang Buddha membahas lima jenis bhikkhu yang mempraktikkan latihan memakai jubah kain kotor (paṁsukūlikā). Latihan yang sama bisa dimotivasi oleh hal-hal yang berbeda, mulai dari kebodohan, keinginan rusak, kegilaan, hingga karena dipuji para Buddha atau demi memiliki sedikit keinginan.
“Pañcime, bhikkhave, paṁsukūlikā.
“Para bhikkhu, ada lima jenis pemakai jubah kain kotor.
“Mendicants, these five wear rag robes.
Katame pañca?
Apakah lima itu?
What five?
Mandattā momūhattā paṁsukūliko hoti …pe… idamatthitaṁyeva nissāya paṁsukūliko hoti.
Seseorang memakai jubah kain kotor karena kebodohan, karena keinginan yang rusak, karena kegilaan, karena dipuji oleh para Buddha, atau demi memiliki sedikit keinginan.
One may wear rag robes because of stupidity … corrupt wishes … madness … because it is praised by the Buddhas … or for the sake of having few wishes …
Ime kho, bhikkhave, pañca paṁsukūlikā”ti.
Inilah, para bhikkhu, lima jenis pemakai jubah kain kotor.”
These are the five who wear rag robes.”
Dutiyaṁ.
Kedua.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.