Atha kho āyasmato ānandassa etadahosi:
Kemudian Yang Mulia Ānanda berpikir:
Then Venerable Ānanda thought,
Tentang Gavesī
Sutta ini menyajikan sebuah kisah inspiratif dari masa lampau yang diceritakan oleh Sang Buddha. Mari kita simak bagaimana tekad seorang umat awam bernama Gavesī membawa perubahan besar bagi dirinya dan banyak orang di sekitarnya.
Sang Buddha menceritakan kepada Ānanda tentang seorang umat awam bernama Gavesī pada zaman Buddha Kassapa. Gavesī, yang menjadi pemimpin bagi lima ratus umat awam lainnya, menyadari bahwa ia belum melampaui mereka dalam hal moralitas. Ia pun bertekad untuk berlatih lebih tinggi, diikuti oleh kelima ratus umat awam tersebut, hingga akhirnya mereka semua meninggalkan kehidupan rumah tangga dan mencapai kebebasan tertinggi. Kisah ini menjadi dorongan bagi para bhikkhu untuk berusaha mencapai yang lebih tinggi dan lebih baik.
Atha kho āyasmato ānandassa etadahosi:
Kemudian Yang Mulia Ānanda berpikir:
Then Venerable Ānanda thought,
“ko nu kho hetu ko paccayo bhagavato sitassa pātukammāya?
“Apakah sebab dan alasan bagi Sang Bhagavā untuk tersenyum?
“What is the cause, what is the reason why the Buddha smiled?
Na akāraṇena tathāgatā sitaṁ pātukarontī”ti.
Para Tathāgata tidak tersenyum tanpa sebab.”
Realized Ones do not smile for no reason.”
Atha kho āyasmā ānando bhagavantaṁ etadavoca:
Kemudian Yang Mulia Ānanda berkata kepada Sang Bhagavā:
So Venerable Ānanda said to the Buddha,
“ko nu kho, bhante, hetu ko paccayo bhagavato sitassa pātukammāya?
“Apakah sebab dan alasan, Bhante, bagi Sang Bhagavā untuk tersenyum?
“What is the cause, what is the reason why the Buddha smiled?
Na akāraṇena tathāgatā sitaṁ pātukarontī”ti.
Para Tathāgata tidak tersenyum tanpa sebab.”
Realized Ones do not smile for no reason.”
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.