Kathañca, bhikkhave, bhikkhu sotā hoti?
Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu menjadi pendengar?
And how does a mendicant listen?
Sotasutta
Dalam sutta ini, Sang Buddha menggunakan perumpamaan yang hidup tentang gajah kerajaan untuk menggambarkan kualitas-kualitas seorang praktisi yang baik. Mari kita simak bagaimana setiap kualitas gajah tersebut dipadankan dengan kualitas batin seorang bhikkhu.
Sutta ini menggunakan perumpamaan gajah kerajaan yang memiliki lima kualitas—mendengar, menghancurkan, melindungi, bertahan, dan bergerak cepat—untuk menggambarkan lima kualitas seorang bhikkhu yang membuatnya layak menerima persembahan dan menjadi ladang jasa bagi dunia. Sang Buddha menjelaskan masing-masing kualitas secara berpasangan, pertama pada gajah dan kemudian pada bhikkhu, dengan penekanan pada praktik spiritual yang mendalam.
Kathañca, bhikkhave, bhikkhu sotā hoti?
Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu menjadi pendengar?
And how does a mendicant listen?
Idha, bhikkhave, bhikkhu tathāgatappavedite dhammavinaye desiyamāne aṭṭhiṅkatvā manasi katvā sabbaṁ cetasā samannāharitvā ohitasoto dhammaṁ suṇāti.
Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu ketika Dhamma dan Vinaya yang dibabarkan oleh Sang Tathāgata sedang diajarkan, ia memperhatikan, mengarahkan pikiran, mencurahkan seluruh batinnya, dan mendengarkan Dhamma dengan telinga yang siap.
It’s when a mendicant pays attention, applies the mind, concentrates wholeheartedly, and actively listens when the teaching and training proclaimed by a Realized One is being taught.
Evaṁ kho, bhikkhave, bhikkhu sotā hoti.
Demikianlah, para bhikkhu, seorang bhikkhu disebut sebagai pendengar.
That’s how a mendicant listens.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.