Kathañca, bhikkhave, rañño nāgo hantā hoti?
Dan bagaimana, para bhikkhu, gajah kerajaan menjadi penghancur?
And how does a royal bull elephant destroy?
Sotasutta
Dalam sutta ini, Sang Buddha menggunakan perumpamaan yang hidup tentang gajah kerajaan untuk menggambarkan kualitas-kualitas seorang praktisi yang baik. Mari kita simak bagaimana setiap kualitas gajah tersebut dipadankan dengan kualitas batin seorang bhikkhu.
Sutta ini menggunakan perumpamaan gajah kerajaan yang memiliki lima kualitas—mendengar, menghancurkan, melindungi, bertahan, dan bergerak cepat—untuk menggambarkan lima kualitas seorang bhikkhu yang membuatnya layak menerima persembahan dan menjadi ladang jasa bagi dunia. Sang Buddha menjelaskan masing-masing kualitas secara berpasangan, pertama pada gajah dan kemudian pada bhikkhu, dengan penekanan pada praktik spiritual yang mendalam.
Kathañca, bhikkhave, rañño nāgo hantā hoti?
Dan bagaimana, para bhikkhu, gajah kerajaan menjadi penghancur?
And how does a royal bull elephant destroy?
Idha, bhikkhave, rañño nāgo saṅgāmagato hatthimpi hanati, hatthāruhampi hanati, assampi hanati, assāruhampi hanati, rathampi hanati, rathikampi hanati, pattikampi hanati.
Di sini, para bhikkhu, gajah kerajaan dalam pertempuran menghancurkan gajah beserta penunggangnya, kuda beserta penunggangnya, kereta beserta kusirnya, dan prajurit berjalan kaki.
It’s when a royal bull elephant in battle destroys elephants with their riders, horses with their riders, chariots and charioteers, and foot soldiers.
Evaṁ kho, bhikkhave, rañño nāgo hantā hoti.
Demikianlah, para bhikkhu, gajah kerajaan menjadi penghancur.
That’s how a royal bull elephant destroys.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.