Kathañca, bhikkhave, bhikkhu khamo hoti saddānaṁ?
Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu tahan terhadap suara-suara?
And how is it that a mendicant can endure sounds?
Sutta tentang Tidak Tahan
Sutta ini mengajak kita merenungkan ketangguhan batin melalui perumpamaan yang hidup. Mari kita simak bagaimana Buddha membandingkan seorang petapa dengan gajah perang kerajaan, dan apa artinya 'tahan' terhadap godaan indra dalam kehidupan sehari-hari.
Sutta ini menggunakan perumpamaan gajah perang kerajaan untuk menggambarkan kualitas seorang bhikkhu. Sama seperti gajah yang tidak tahan terhadap rangsangan indra di medan perang tidak layak bagi raja, seorang bhikkhu yang tergoda oleh bentuk, suara, bau, rasa, dan sentuhan tidak layak menerima penghormatan dan persembahan. Sebaliknya, mereka yang mampu menahan gejolak indra adalah ladang jasa yang tiada taranya bagi dunia.
Kathañca, bhikkhave, bhikkhu khamo hoti saddānaṁ?
Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu tahan terhadap suara-suara?
And how is it that a mendicant can endure sounds?
Idha, bhikkhave, bhikkhu sotena saddaṁ sutvā rajanīye sadde na sārajjati, sakkoti cittaṁ samādahituṁ.
Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu setelah mendengar suara dengan telinga, tidak tergoda oleh suara yang menarik, mampu menenangkan pikirannya.
It’s when a mendicant, hearing a sound with their ears, is not aroused by desirable sounds, so is able to still the mind.
Evaṁ kho, bhikkhave, bhikkhu khamo hoti saddānaṁ.
Demikianlah, para bhikkhu, seorang bhikkhu tahan terhadap suara-suara.
That’s how a mendicant can endure sounds.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.