Katamehi pañcahi?
Apakah lima itu?
What five?
Khotbah tentang Memutar Roda (1)
Sutta ini mengajak kita merenungkan bagaimana kebijaksanaan praktis—seperti memahami konteks dan moderasi—menjadi kunci dalam kepemimpinan yang baik, baik dalam duniawi maupun spiritual. Mari kita simak perbandingan yang dibuat oleh Buddha.
Sutta ini membandingkan seorang raja pemutar roda yang memiliki lima faktor untuk memerintah dengan benar, dengan seorang Tathāgata yang memiliki lima kualitas untuk memutar roda Dhamma yang tiada taranya. Kelima faktor tersebut adalah mengetahui apa yang bermanfaat, mengetahui Dhamma, mengetahui ukuran yang tepat, mengetahui waktu yang tepat, dan mengetahui majelis. Dengan kualitas ini, roda kekuasaan raja tidak dapat digulingkan oleh musuh manusia, dan roda Dhamma tidak dapat diputar balik oleh siapa pun di dunia.
Katamehi pañcahi?
Apakah lima itu?
What five?
Idha, bhikkhave, rājā cakkavattī atthaññū ca hoti, dhammaññū ca, mattaññū ca, kālaññū ca, parisaññū ca.
Di sini, para bhikkhu, seorang raja pemutar roda mengetahui apa yang bermanfaat, mengetahui Dhamma, mengetahui ukuran yang tepat, mengetahui waktu yang tepat, dan mengetahui majelis.
A wheel-turning monarch knows what is right, knows principle, knows moderation, knows the right time, and knows the assembly.
Imehi kho, bhikkhave, pañcahi aṅgehi samannāgato rājā cakkavattī dhammeneva cakkaṁ pavatteti;
Para bhikkhu, seorang raja pemutar roda yang memiliki kelima faktor ini memutar roda hanya dengan cara yang benar;
A wheel-turning monarch who possesses these five factors wields power only in a principled manner.
taṁ hoti cakkaṁ appaṭivattiyaṁ kenaci manussabhūtena paccatthikena pāṇinā.
roda itu tidak dapat diputar balik oleh musuh manusia mana pun.
And this power cannot be undermined by any human enemy.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.