an5.106:1.1 Ekaṁ samayaṁ bhagavā kosambiyaṁ viharati ghositārāme.
an5.106:1.2 Atha kho āyasmā ānando yena bhagavā tenupasaṅkami; upasaṅkamitvā bhagavantaṁ abhivādetvā ekamantaṁ nisīdi. Ekamantaṁ nisinno kho āyasmā ānando bhagavantaṁ etadavoca:
Khotbah tentang Ānanda
Sutta ini memperlihatkan pola pengajaran bertahap yang khas: setiap kali Ānanda bertanya apakah ada cara lain, Buddha menambahkan satu kualitas lagi. Perhatikan bagaimana jawaban bergerak dari hal yang tampak sederhana—menjaga moralitas diri—menuju pencapaian spiritual tertinggi, dan bagaimana penekanan selalu pada tanggung jawab pribadi, bukan mengatur orang lain.
Yang Mulia Ānanda bertanya kepada Buddha tentang bagaimana seorang bhikkhu dapat hidup dengan nyaman saat berdiam dalam Saṅgha (komunitas monastik). Buddha memberikan jawaban berjenjang, dimulai dari penguasaan moralitas diri sendiri, kemudian meluas ke sikap batin, ketenaran, penguasaan jhāna, hingga puncaknya pada pencapaian kebebasan total melalui hancurnya kekotoran batin. Buddha menegaskan bahwa tidak ada cara hidup nyaman yang lebih tinggi daripada yang terakhir ini.
an5.106:1.1 Ekaṁ samayaṁ bhagavā kosambiyaṁ viharati ghositārāme.
an5.106:1.2 Atha kho āyasmā ānando yena bhagavā tenupasaṅkami; upasaṅkamitvā bhagavantaṁ abhivādetvā ekamantaṁ nisīdi. Ekamantaṁ nisinno kho āyasmā ānando bhagavantaṁ etadavoca:
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.