Ekaṁ samayaṁ bhagavā kosambiyaṁ viharati ghositārāme.
Pada suatu ketika, Sang Bhagavā sedang menetap di Kosambī, di Vihara Ghosita.
At one time the Buddha was staying near Kosambī in Ghosita’s monastery.
Khotbah tentang Ānanda
Sutta ini memperlihatkan pola pengajaran bertahap yang khas: setiap kali Ānanda bertanya apakah ada cara lain, Buddha menambahkan satu kualitas lagi. Perhatikan bagaimana jawaban bergerak dari hal yang tampak sederhana—menjaga moralitas diri—menuju pencapaian spiritual tertinggi, dan bagaimana penekanan selalu pada tanggung jawab pribadi, bukan mengatur orang lain.
Yang Mulia Ānanda bertanya kepada Buddha tentang bagaimana seorang bhikkhu dapat hidup dengan nyaman saat berdiam dalam Saṅgha (komunitas monastik). Buddha memberikan jawaban berjenjang, dimulai dari penguasaan moralitas diri sendiri, kemudian meluas ke sikap batin, ketenaran, penguasaan jhāna, hingga puncaknya pada pencapaian kebebasan total melalui hancurnya kekotoran batin. Buddha menegaskan bahwa tidak ada cara hidup nyaman yang lebih tinggi daripada yang terakhir ini.
Ekaṁ samayaṁ bhagavā kosambiyaṁ viharati ghositārāme.
Pada suatu ketika, Sang Bhagavā sedang menetap di Kosambī, di Vihara Ghosita.
At one time the Buddha was staying near Kosambī in Ghosita’s monastery.
Atha kho āyasmā ānando yena bhagavā tenupasaṅkami; upasaṅkamitvā bhagavantaṁ abhivādetvā ekamantaṁ nisīdi. Ekamantaṁ nisinno kho āyasmā ānando bhagavantaṁ etadavoca:
Kemudian Yang Mulia Ānanda mendatangi Sang Bhagavā, memberi hormat kepada Beliau, lalu duduk di satu sisi. Setelah duduk di satu sisi, Yang Mulia Ānanda berkata kepada Sang Bhagavā:
Then Venerable Ānanda went up to the Buddha, bowed, sat down to one side, and said to him,
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.