Kathañca, bhikkhave, puggalo samaṇamacalo hoti?
Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang individu disebut pertapa yang teguh?
And how is an individual a confirmed ascetic?
Khandhasutta
Sutta ini mengajak kita untuk merenungkan keragaman kualitas dalam kehidupan spiritual. Mari kita simak bagaimana Sang Buddha menguraikan tingkatan-tingkatan ini, dari yang masih berlatih hingga yang telah mencapai kelembutan tertinggi, dan apa artinya bagi pemahaman kita tentang praktik.
Dalam khotbah ini, Sang Buddha membedakan empat jenis pertapa berdasarkan kemajuan spiritual dan kualitas batin mereka: pertapa yang teguh, pertapa teratai putih, pertapa teratai merah, dan pertapa yang lembut di antara para pertapa. Tingkatan ini ditentukan oleh praktik meditasi, pencapaian batin, dan cara hidup mereka. Sang Buddha menempatkan diri-Nya sebagai contoh tertinggi dari kategori terakhir.
Kathañca, bhikkhave, puggalo samaṇamacalo hoti?
Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang individu disebut pertapa yang teguh?
And how is an individual a confirmed ascetic?
Idha, bhikkhave, bhikkhu sekho hoti appattamānaso, anuttaraṁ yogakkhemaṁ patthayamāno viharati.
Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu adalah seorang yang masih berlatih, belum mencapai tujuan batinnya, dan hidup dengan mengarah pada keamanan tertinggi dari belenggu.
It’s when a mendicant is a trainee who hasn’t achieved their heart’s desire, but lives aspiring to the supreme sanctuary from the yoke.
Evaṁ kho, bhikkhave, puggalo samaṇamacalo hoti.
Demikianlah, para bhikkhu, seorang individu disebut pertapa yang teguh.
That’s how an individual is a confirmed ascetic.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.