an4.79:2.1 “Idha, sāriputta, ekacco samaṇaṁ vā brāhmaṇaṁ vā upasaṅkamitvā pavāreti: ‘vadatu, bhante, paccayenā’ti. So yena pavāreti taṁ na deti.
an4.79:2.2 So ce tato cuto itthattaṁ āgacchati, so yaññadeva vaṇijjaṁ payojeti, sāssa hoti chedagāminī.
Sutta tentang Perniagaan
Sutta ini mengajak kita merenungkan bagaimana tindakan memberi—baik dalam hal ketulusan maupun kecukupan—dapat membawa akibat yang sepadan. Mari kita simak penjelasan Buddha tentang empat pola memberi dan akibatnya masing-masing.
Yang Mulia Sāriputta bertanya kepada Buddha mengapa usaha perniagaan yang sama bisa berakhir berbeda-beda bagi tiap orang: gagal, tidak sesuai harapan, sesuai harapan, atau melebihi harapan. Buddha menjelaskan bahwa perbedaan ini disebabkan oleh cara seseorang memberi saat diundang oleh petapa atau brahmana—apakah tidak memberi, memberi tidak sesuai harapan, memberi sesuai harapan, atau memberi melebihi harapan. Perilaku memberi ini membawa akibat yang sepadan dalam kehidupan berikutnya.
an4.79:2.1 “Idha, sāriputta, ekacco samaṇaṁ vā brāhmaṇaṁ vā upasaṅkamitvā pavāreti: ‘vadatu, bhante, paccayenā’ti. So yena pavāreti taṁ na deti.
an4.79:2.2 So ce tato cuto itthattaṁ āgacchati, so yaññadeva vaṇijjaṁ payojeti, sāssa hoti chedagāminī.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.