Tasmā hi dhīro idhupaṭṭhitassatī,
Maka orang bijaksana dalam kehidupan ini, dengan perhatian yang tegak,
So the attentive in this life, <j>with mindfulness established,
Khotbah tentang Arus
Sutta ini menggunakan metafora arus sungai yang kuat untuk menggambarkan perjalanan spiritual. Mari kita simak bagaimana Sang Buddha membedakan empat jenis perenang dalam arus kehidupan ini, dan di mana posisi kita dalam analogi tersebut.
Dalam khotbah ini, Sang Buddha mengajarkan kepada para bhikkhu tentang empat jenis individu yang ada di dunia, dianalogikan dengan arus sungai. Keempatnya adalah: yang mengikuti arus (menikmati kenikmatan indria dan berbuat jahat), yang melawan arus (menahan diri dari kenikmatan indria dan berbuat jahat, meski dengan penderitaan), yang teguh (seorang yang telah melampaui lima belenggu rendah dan tidak akan kembali), dan yang telah menyeberang (seorang arahat yang telah mencapai kebebasan sempurna).
Tasmā hi dhīro idhupaṭṭhitassatī,
Maka orang bijaksana dalam kehidupan ini, dengan perhatian yang tegak,
So the attentive in this life, <j>with mindfulness established,
Kāme ca pāpe ca asevamāno;
tidak terlibat dalam kenikmatan indra dan perbuatan jahat.
don’t take part in sensual pleasures and bad deeds.
Sahāpi dukkhena jaheyya kāme,
Bahkan dengan penderitaan, mereka melepaskan kenikmatan indra:
In pain they’d give up sensual pleasures:
Paṭisotagāmīti tamāhu puggalaṁ.
mereka menyebut orang itu ‘yang melawan arus’.
they call that individual <j>‘one who goes against the stream’.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.