Avītivattā sakkāyaṁ,
'Kami belum melampaui kepribadian!
‘We haven’t passed beyond substantial reality!
Sīhasutta: Singa
Sutta ini menggunakan perumpamaan yang hidup untuk menggambarkan betapa mendalamnya pengaruh ajaran Buddha. Mari kita renungkan bagaimana auman singa mengguncang hutan, dan bagaimana ajaran tentang ketidakkekalan mengguncang keyakinan kita yang selama ini nyaman.
Sang Buddha mengumpamakan diri-Nya dengan singa, raja segala binatang, yang aumnya menakuti makhluk lain. Demikian pula, ketika Tathāgata muncul di dunia dan mengajarkan Dhamma tentang kepribadian (sakkāya), asal-mulanya, lenyapnya, dan jalan menuju lenyapnya, bahkan para dewa yang berumur panjang menjadi gentar karena menyadari ketidakkekalan mereka. Sutta ini menekankan kekuatan dan kewibawaan ajaran Buddha dalam mengguncang pandangan keliru tentang kekekalan.
Avītivattā sakkāyaṁ,
'Kami belum melampaui kepribadian!
‘We haven’t passed beyond substantial reality!
aniccā kira bho mayaṁ;
Ternyata kami tidak kekal!'
It turns out we’re impermanent!’
Sutvā arahato vākyaṁ,
Demikianlah mereka berkata saat mendengar kata-kata
So they say when they hear the word
vippamuttassa tādino”ti.
dari Yang Tercerahkan, yang bebas dan tak tergoyahkan."
of the perfected one, free and unaffected.”
Tatiyaṁ.
Ketiga.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.