Yepi dīghāyukā devā,
Dan para dewa yang berumur panjang,
And then the long-lived gods,
Sīhasutta: Singa
Sutta ini menggunakan perumpamaan yang hidup untuk menggambarkan betapa mendalamnya pengaruh ajaran Buddha. Mari kita renungkan bagaimana auman singa mengguncang hutan, dan bagaimana ajaran tentang ketidakkekalan mengguncang keyakinan kita yang selama ini nyaman.
Sang Buddha mengumpamakan diri-Nya dengan singa, raja segala binatang, yang aumnya menakuti makhluk lain. Demikian pula, ketika Tathāgata muncul di dunia dan mengajarkan Dhamma tentang kepribadian (sakkāya), asal-mulanya, lenyapnya, dan jalan menuju lenyapnya, bahkan para dewa yang berumur panjang menjadi gentar karena menyadari ketidakkekalan mereka. Sutta ini menekankan kekuatan dan kewibawaan ajaran Buddha dalam mengguncang pandangan keliru tentang kekekalan.
Yepi dīghāyukā devā,
Dan para dewa yang berumur panjang,
And then the long-lived gods,
vaṇṇavanto yasassino;
yang cantik dan mulia,
so beautiful and glorious,
Bhītā santāsamāpāduṁ,
menjadi takut dan gemetar,
are afraid and full of terror,
sīhassevitare migā.
bagaikan binatang lain mendengar singa.
like the other beasts when they hear a lion.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.