Nārati sahati dhīraṁ,
Ketidakpuasan tidak mengalahkan orang bijaksana,
Discontent cannot prevail over the attentive;
Kebiasaan Mulia
Sutta ini mengajak kita merenungkan standar kecukupan dan kepuasan dalam kehidupan praktis seorang bhikkhu. Perhatikan bagaimana penekanan diberikan bukan hanya pada sikap puas, tetapi juga pada kewaspadaan dan tidak membandingkan diri dengan orang lain.
Sutta ini membahas empat kebiasaan mulia (ariyavaṁsa) yang dianggap primordial dan tidak ternoda: merasa puas dengan jubah apa pun, makanan apa pun, tempat tinggal apa pun, serta bersenang dalam pengembangan batin dan pelepasan. Seorang bhikkhu yang memiliki empat kebiasaan ini tidak meninggikan diri atau merendahkan orang lain, dan mampu mengatasi ketidakpuasan di mana pun ia berdiam. Sutta ditutup dengan syair yang menegaskan keunggulan orang bijaksana yang telah melepaskan segala perbuatan.
Nārati sahati dhīraṁ,
Ketidakpuasan tidak mengalahkan orang bijaksana,
Discontent cannot prevail over the attentive;
nārati dhīraṁ sahati;
ketidakpuasan tidak menguasai orang bijaksana;
the attentive are not prevailed over by discontent.
Dhīrova aratiṁ sahati,
Orang bijaksana justru mengatasi ketidakpuasan,
The attentive can prevail over discontent,
dhīro hi aratissaho.
karena orang bijaksana adalah penakluk ketidakpuasan.
for the attentive are those who prevail over discontent.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.