Anavajjena tuṭṭhassa,
Bagi yang puas dengan yang tidak tercela,
When you’re content with what’s blameless,
Khotbah tentang Kepuasan
Sutta ini mengajak kita merenungkan betapa sederhananya kebutuhan yang dapat membawa kebahagiaan sejati. Mari kita simak bagaimana Sang Buddha menggambarkan kepuasan sebagai kunci kehidupan pertapaan.
Dalam khotbah singkat ini, Sang Buddha mengajarkan empat hal sederhana yang mudah diperoleh dan tidak tercela—jubah kain kotor, makanan dana, tempat tinggal di bawah pohon, dan air seni basi sebagai obat—yang jika dipraktikkan dengan rasa puas, menjadi salah satu faktor kehidupan pertapaan. Beliau menekankan bahwa kepuasan dengan hal-hal remeh ini membawa ketenangan batin dan tidak terhalang ke mana pun.
Anavajjena tuṭṭhassa,
Bagi yang puas dengan yang tidak tercela,
When you’re content with what’s blameless,
appena sulabhena ca;
yang remeh dan mudah diperoleh;
trifling, and easy to find,
Na senāsanamārabbha,
Ia tidak menjadi gelisah
you don’t get upset
cīvaraṁ pānabhojanaṁ;
karena tempat tinggal, jubah, makanan, dan minuman;
about lodgings, robes,
Vighāto hoti cittassa,
Tidak ada kekacauan batin,
food, and drink,
disā nappaṭihaññati.
dan ia tidak terhalang ke mana pun.
and you’re not obstructed anywhere.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.