“Cattārome, bhikkhave, ariyavohārā.
“Para bhikkhu, ada empat ucapan mulia ini.
“Mendicants, there are these four noble expressions.
Ucapan (Keempat)
Sutta ini sangat singkat namun padat. Mari kita renungkan bagaimana kita berbicara tentang pengalaman kita—apakah kita selalu jujur tentang apa yang kita lihat, dengar, rasakan, dan ketahui? Ini adalah ajaran sederhana yang mengajak kita untuk hidup dalam kebenaran.
Dalam sutta ini, Sang Buddha mengajarkan kepada para bhikkhu tentang empat ucapan mulia (ariyavohārā), yaitu mengatakan dengan jujur apa yang telah dilihat, didengar, dirasakan, dan diketahui. Ini menekankan pentingnya kebenaran dalam ucapan sebagai bagian dari praktik mulia.
“Cattārome, bhikkhave, ariyavohārā.
“Para bhikkhu, ada empat ucapan mulia ini.
“Mendicants, there are these four noble expressions.
Katame cattāro?
Apakah empat itu?
What four?
Diṭṭhe diṭṭhavāditā, sute sutavāditā, mute mutavāditā, viññāte viññātavāditā—
Mengatakan telah melihat apa yang telah dilihat, mengatakan telah mendengar apa yang telah didengar, mengatakan telah merasakan apa yang telah dirasakan, mengatakan telah mengetahui apa yang telah diketahui—
Saying you’ve seen, heard, thought, or known something, and you have.
Ime kho, bhikkhave, cattāro ariyavohārā”ti.
Ini, para bhikkhu, adalah empat ucapan mulia.”
These are the four noble expressions.”
Ekādasamaṁ.
Kesebelas.
Āpattibhayavaggo pañcamo.
Bab Bahaya Pelanggaran, yang kelima.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.