“Cattārome, bhikkhave, anariyavohārā.
“Para bhikkhu, ada empat ucapan tidak mulia ini.
“Mendicants, there are these four ignoble expressions.
Ucapan (Ke-3)
Sutta ini mengajak kita merenungkan bagaimana kejujuran dalam perkataan sehari-hari merupakan fondasi penting dalam praktik Dhamma. Mari kita simak dengan tenang apa yang disampaikan oleh Sang Buddha tentang empat ucapan tidak mulia ini.
Dalam sutta ini, Sang Buddha mengajarkan kepada para bhikkhu tentang empat jenis ucapan tidak mulia (anariyavohārā), yaitu mengaku tidak melihat padahal telah melihat, tidak mendengar padahal telah mendengar, tidak merasakan padahal telah merasakan, dan tidak mengetahui padahal telah mengetahui. Sutta ini menekankan pentingnya kejujuran dalam bertutur kata sebagai bagian dari praktik mulia.
“Cattārome, bhikkhave, anariyavohārā.
“Para bhikkhu, ada empat ucapan tidak mulia ini.
“Mendicants, there are these four ignoble expressions.
Katame cattāro?
Apakah empat itu?
What four?
Diṭṭhe adiṭṭhavāditā, sute asutavāditā, mute amutavāditā, viññāte aviññātavāditā—
Mengatakan tidak melihat apa yang telah dilihat, tidak mendengar apa yang telah didengar, tidak merasakan apa yang telah dirasakan, tidak mengetahui apa yang telah diketahui—
Saying you haven’t seen, heard, thought, or known something, and you have.
Ime kho, bhikkhave, cattāro anariyavohārā”ti.
Ini, para bhikkhu, adalah empat ucapan tidak mulia.”
These are the four ignoble expressions.”
Dasamaṁ.
Kesepuluh.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.