Ekaṁ samayaṁ bhagavā sākete viharati kāḷakārāme.
Pada suatu ketika, Sang Bhagavā sedang menetap di Sāketa, di Vihara Kāḷaka.
At one time the Buddha was staying near Sāketa in Kāḷaka’s monastery.
Khotbah di Vihara Kāḷaka
Dalam sutta ini, Sang Buddha mengajak kita merenungkan bagaimana pengetahuan dan pengalaman sehari-hari bisa menjadi sumber keterikatan. Mari kita simak bagaimana ia menggambarkan sikap seorang Tathāgata yang melihat, mendengar, dan mengetahui tanpa terjebak dalam anggapan-anggapan.
Dalam khotbah ini, Sang Buddha menjelaskan bahwa seorang Tathāgata mengetahui segala sesuatu yang dapat dilihat, didengar, dirasakan, dan disadari oleh makhluk-makhluk di dunia, namun ia tidak terikat pada hal-hal tersebut. Ia tidak menganggap dirinya sebagai penglihat, pendengar, perasa, atau penyadar, dan tidak menggenggam apa pun sebagai kebenaran mutlak. Melalui syair penutup, Sang Buddha menegaskan bahwa para Tathāgata bebas dari segala keterikatan dan prasangka.
Ekaṁ samayaṁ bhagavā sākete viharati kāḷakārāme.
Pada suatu ketika, Sang Bhagavā sedang menetap di Sāketa, di Vihara Kāḷaka.
At one time the Buddha was staying near Sāketa in Kāḷaka’s monastery.
Tatra kho bhagavā bhikkhū āmantesi:
Di sana Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:
There the Buddha addressed the mendicants,
“bhikkhavo”ti.
“Para bhikkhu!”
“Mendicants!”
“Bhadante”ti te bhikkhū bhagavato paccassosuṁ.
“Yang Mulia,” jawab para bhikkhu itu kepada Sang Bhagavā.
“Venerable sir,” they replied.
Bhagavā etadavoca—
Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:
The Buddha said this:
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.