Katamo ca, bhikkhave, tatiyo samaṇo?
Dan siapakah, para bhikkhu, petapa ketiga?
And who is the third ascetic?
Khotbah tentang Para Petapa
Dalam sutta ini, Sang Buddha memberikan kerangka yang jelas tentang pencapaian spiritual tertinggi dalam ajaranNya. Mari kita simak bagaimana Beliau menguraikan empat tingkatan petapa sejati dan makna di balik pernyataan tegas tentang keunikan ajaran ini.
Dalam khotbah ini, Sang Buddha mengajarkan kepada para bhikkhu tentang empat tingkatan petapa sejati dalam ajaran ini. Keempat tingkatan tersebut adalah pemasuk-arus, yang-kembali-sekali, yang-tidak-kembali, dan seorang Arahant yang telah mencapai kebebasan penuh. Ajaran ini menegaskan bahwa hanya dalam ajaran ini terdapat para petapa sejati, sementara aliran-aliran lain kosong darinya, dan para bhikkhu dianjurkan untuk mengaumkan raungan singa dengan benar berdasarkan keyakinan ini.
Katamo ca, bhikkhave, tatiyo samaṇo?
Dan siapakah, para bhikkhu, petapa ketiga?
And who is the third ascetic?
Idha, bhikkhave, bhikkhu pañcannaṁ orambhāgiyānaṁ saṁyojanānaṁ parikkhayā opapātiko hoti tattha parinibbāyī anāvattidhammo tasmā lokā.
Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu, dengan hancurnya lima belenggu yang lebih rendah, menjadi seorang yang terlahir spontan, mencapai Nibbāna di alam itu, tidak akan kembali dari alam tersebut.
It’s a mendicant who—with the ending of the five lower fetters—is reborn spontaneously. They’re extinguished there, and are not liable to return from that world.
Ayaṁ, bhikkhave, tatiyo samaṇo.
Ini, para bhikkhu, adalah petapa ketiga.
This is the third ascetic.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.