Katamo ca, bhikkhave, dutiyo samaṇo?
Dan siapakah, para bhikkhu, petapa kedua?
And who is the second ascetic?
Khotbah tentang Para Petapa
Dalam sutta ini, Sang Buddha memberikan kerangka yang jelas tentang pencapaian spiritual tertinggi dalam ajaranNya. Mari kita simak bagaimana Beliau menguraikan empat tingkatan petapa sejati dan makna di balik pernyataan tegas tentang keunikan ajaran ini.
Dalam khotbah ini, Sang Buddha mengajarkan kepada para bhikkhu tentang empat tingkatan petapa sejati dalam ajaran ini. Keempat tingkatan tersebut adalah pemasuk-arus, yang-kembali-sekali, yang-tidak-kembali, dan seorang Arahant yang telah mencapai kebebasan penuh. Ajaran ini menegaskan bahwa hanya dalam ajaran ini terdapat para petapa sejati, sementara aliran-aliran lain kosong darinya, dan para bhikkhu dianjurkan untuk mengaumkan raungan singa dengan benar berdasarkan keyakinan ini.
Katamo ca, bhikkhave, dutiyo samaṇo?
Dan siapakah, para bhikkhu, petapa kedua?
And who is the second ascetic?
Idha, bhikkhave, bhikkhu tiṇṇaṁ saṁyojanānaṁ parikkhayā rāgadosamohānaṁ tanuttā sakadāgāmī hoti, sakideva imaṁ lokaṁ āgantvā dukkhassantaṁ karoti.
Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu, dengan hancurnya tiga belenggu dan melemahnya nafsu, kebencian, dan delusi, menjadi seorang yang-kembali-sekali. Ia kembali ke dunia ini sekali saja, kemudian mengakhiri penderitaan.
It’s a mendicant who—with the ending of three fetters, and the weakening of greed, hate, and delusion—is a once-returner. They come back to this world once only, then make an end of suffering.
Ayaṁ, bhikkhave, dutiyo samaṇo.
Ini, para bhikkhu, adalah petapa kedua.
This is the second ascetic.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.