Evaṁ me sutaṁ—
Demikianlah telah kudengar:
So I have heard.
Khotbah Pertama di Uruvelā
Khotbah ini mengajak kita merenungkan tentang sikap hormat dalam praktik spiritual. Mari kita simak bagaimana Sang Buddha sendiri, sebagai sosok yang telah mencapai kesempurnaan, mencari dan menemukan objek penghormatan yang tepat.
Dalam khotbah ini, Sang Buddha menceritakan kembali pengalaman-Nya sesaat setelah mencapai pencerahan sempurna di Uruvelā. Ia merenungkan bahwa hidup tanpa rasa hormat adalah penderitaan, tetapi setelah mencari ke seluruh alam, Ia tidak menemukan siapa pun yang lebih sempurna dari diri-Nya sendiri dalam hal moralitas, konsentrasi, kebijaksanaan, dan kebebasan. Akhirnya, atas dorongan Brahmā Sahampati, Sang Buddha memutuskan untuk menghormati, menghargai, dan bersandar pada Dhamma yang telah Ia sempurnakan, dan juga memberikan penghormatan kepada Saṅgha yang telah mencapai keagungan.
Evaṁ me sutaṁ—
Demikianlah telah kudengar:
So I have heard.
ekaṁ samayaṁ bhagavā sāvatthiyaṁ viharati jetavane anāthapiṇḍikassa ārāme.
Pada suatu ketika, Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī, di Hutan Jeta, taman Anāthapiṇḍika.
At one time the Buddha was staying near Sāvatthī in Jeta’s Grove, Anāthapiṇḍika’s monastery.
Tatra kho bhagavā bhikkhū āmantesi:
Di sana Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:
There the Buddha addressed the mendicants,
“bhikkhavo”ti.
"Para bhikkhu!"
“Mendicants!”
“Bhadante”ti te bhikkhū bhagavato paccassosuṁ.
"Yang Mulia," jawab para bhikkhu itu.
“Venerable sir,” they replied.
Bhagavā etadavoca:
Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:
The Buddha said this:
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.