Katamāni aṭṭhārasa taṇhāvicaritāni bāhirassa upādāya?
Apakah delapan belas arus nafsu keinginan yang muncul dengan bersandar pada eksternal?
What are the eighteen currents of craving that derive from the exterior?
Sutta Taṇhā (Nafsu Keinginan, Sang Penenun)
Sutta ini mengajak kita untuk melihat lebih dekat bagaimana pikiran kita bekerja. Perhatikanlah bagaimana dari sekadar perasaan 'aku ada', muncul begitu banyak variasi keinginan dan kemelekatan yang tak terhitung. Ini adalah undangan untuk merenungkan secara mendalam tentang sifat dasar dari jeratan saṁsāra.
Dalam sutta ini, Sang Buddha mengajarkan tentang nafsu keinginan (taṇhā) yang digambarkan sebagai penenun, pengembara, yang merayap, dan yang melekat. Beliau menguraikan secara sistematis bagaimana nafsu keinginan ini bermanifestasi dalam 18 arus yang bersandar pada internal dan 18 arus yang bersandar pada eksternal, yang kemudian menjadi 36 arus, dan ketika dikaitkan dengan masa lampau, masa depan, dan masa sekarang, menjadi 108 arus nafsu keinginan. Sutta ini adalah analisis mendalam tentang bagaimana persepsi 'aku' dan 'milikku' menjerat dunia dalam saṁsāra.
Katamāni aṭṭhārasa taṇhāvicaritāni bāhirassa upādāya?
Apakah delapan belas arus nafsu keinginan yang muncul dengan bersandar pada eksternal?
What are the eighteen currents of craving that derive from the exterior?
Imināsmīti, bhikkhave, sati iminā itthasmīti hoti, iminā evaṁsmīti hoti, iminā aññathāsmīti hoti, iminā asasmīti hoti, iminā satasmīti hoti, iminā santi hoti, iminā itthaṁ santi hoti, iminā evaṁ santi hoti, iminā aññathā santi hoti, iminā apihaṁ santi hoti, iminā apihaṁ itthaṁ santi hoti, iminā apihaṁ evaṁ santi hoti, iminā apihaṁ aññathā santi hoti, iminā bhavissanti hoti, iminā itthaṁ bhavissanti hoti, iminā evaṁ bhavissanti hoti, iminā aññathā bhavissanti hoti.
Ketika ada konsep ‘aku ada karena ini’, maka muncul konsep ‘aku ada demikian karena ini’, ‘aku ada begini karena ini’, ‘aku ada sebaliknya karena ini’; ‘aku ada sekejap karena ini’, ‘aku ada selamanya karena ini’; ‘milikku karena ini’, ‘demikian milikku karena ini’, ‘begini milikku karena ini’, ‘sebaliknya milikku karena ini’; ‘juga milikku karena ini’, ‘demikian juga milikku karena ini’, ‘begini juga milikku karena ini’, ‘sebaliknya juga milikku karena ini’; ‘aku akan ada karena ini’, ‘aku akan ada demikian karena ini’, ‘aku akan ada begini karena ini’, ‘aku akan ada sebaliknya karena ini’.
When there is the concept ‘I am because of this’, there are the concepts ‘I am such because of this’, ‘I am thus because of this’, ‘I am otherwise because of this’; ‘I am fleeting because of this’, ‘I am lasting because of this’; ‘mine because of this’, ‘such is mine because of this’, ‘thus is mine because of this’, ‘otherwise is mine because of this’; ‘also mine because of this’, ‘such is also mine because of this’, ‘thus is also mine because of this’, ‘otherwise is also mine because of this’; ‘I will be because of this’, ‘I will be such because of this’, ‘I will be thus because of this’, ‘I will be otherwise because of this’.
Imāni aṭṭhārasa taṇhāvicaritāni bāhirassa upādāya.
Inilah delapan belas arus nafsu keinginan yang muncul dengan bersandar pada eksternal.
These are the eighteen currents of craving that derive from the exterior.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.