“Cattārimāni, bhikkhave, ṭhānāni catūhi ṭhānehi veditabbāni.
“Para bhikkhu, empat hal ini dapat diketahui melalui empat landasan.
“Mendicants, these four things can be known in four situations.
Sutta tentang Landasan
Sutta ini mengajak kita merenungkan bagaimana kita menilai orang lain. Mari kita simak penjelasan Sang Buddha tentang empat situasi yang menjadi 'landasan' untuk mengenali kualitas batin seseorang, dan apa saja syarat yang diperlukan agar penilaian kita akurat.
Dalam sutta ini, Sang Buddha menjelaskan bahwa empat kualitas seseorang—moralitas, kemurnian, ketahanan, dan kebijaksanaan—tidak dapat diketahui secara instan. Masing-masing kualitas tersebut hanya dapat dipahami melalui situasi dan cara tertentu: moralitas melalui hidup bersama, kemurnian melalui pergaulan, ketahanan melalui masa-masa sulit, dan kebijaksanaan melalui diskusi. Sang Buddha menekankan bahwa semua pengenalan ini membutuhkan waktu yang lama, perhatian yang sungguh-sungguh, dan kebijaksanaan dari pihak yang menilai.
“Cattārimāni, bhikkhave, ṭhānāni catūhi ṭhānehi veditabbāni.
“Para bhikkhu, empat hal ini dapat diketahui melalui empat landasan.
“Mendicants, these four things can be known in four situations.
Katamāni cattāri?
Apakah empat itu?
What four?
Saṁvāsena, bhikkhave, sīlaṁ veditabbaṁ, tañca kho dīghena addhunā, na ittaraṁ; manasikarotā, no amanasikarotā; paññavatā, no duppaññena.
Para bhikkhu, moralitas dapat diketahui melalui hidup bersama, dan itu pun setelah waktu yang lama, bukan sebentar; dengan memperhatikan, bukan dengan tidak memperhatikan; oleh seorang yang bijaksana, bukan oleh seorang yang bodoh.
You can get to know a person’s ethics by living with them. But only after a long time, not casually; only when attentive, not when inattentive; and only by the wise, not the witless.
Saṁvohārena, bhikkhave, soceyyaṁ veditabbaṁ, tañca kho dīghena addhunā, na ittaraṁ; manasikarotā, no amanasikarotā; paññavatā, no duppaññena.
Para bhikkhu, kemurnian dapat diketahui melalui pergaulan, dan itu pun setelah waktu yang lama, bukan sebentar; dengan memperhatikan, bukan dengan tidak memperhatikan; oleh seorang yang bijaksana, bukan oleh seorang yang bodoh.
You can get to know a person’s purity by dealing with them. …
Āpadāsu, bhikkhave, thāmo veditabbo, so ca kho dīghena addhunā, na ittaraṁ; manasikarotā, no amanasikarotā; paññavatā, no duppaññena.
Para bhikkhu, ketahanan dapat diketahui dalam masa-masa kesulitan, dan itu pun setelah waktu yang lama, bukan sebentar; dengan memperhatikan, bukan dengan tidak memperhatikan; oleh seorang yang bijaksana, bukan oleh seorang yang bodoh.
You can get to know a person’s resilience in times of trouble. …
Sākacchāya, bhikkhave, paññā veditabbā, sā ca kho dīghena addhunā, na ittaraṁ; manasikarotā, no amanasikarotā; paññavatā, no duppaññenāti.
Para bhikkhu, kebijaksanaan dapat diketahui melalui diskusi, dan itu pun setelah waktu yang lama, bukan sebentar; dengan memperhatikan, bukan dengan tidak memperhatikan; oleh seorang yang bijaksana, bukan oleh seorang yang bodoh.”
You can get to know a person’s wisdom by discussion. But only after a long time, not casually; only when attentive, not when inattentive; and only by the wise, not the witless.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.