Cetosamathasāmīciṁ,
Melatih apa yang mengarah pada ketenangan batin,
Training in what leads to serenity of heart,
Sutta tentang Moralitas
Sutta ini mengajak kita merenungkan bagaimana praktik tidak terbatas pada duduk bermeditasi, tetapi dapat dijalankan dalam setiap aktivitas sehari-hari. Mari kita simak bagaimana Sang Buddha menjelaskan kualitas batin yang harus dikembangkan agar selalu waspada dan tekun.
Dalam sutta ini, Sang Buddha menekankan pentingnya moralitas dan disiplin monastik sebagai landasan, lalu mengajarkan bahwa setelah itu, seorang bhikkhu harus melatih pikirannya hingga bersih dari rintangan batin, sehingga dalam segala postur—berjalan, berdiri, duduk, atau berbaring—ia dapat disebut sebagai bhikkhu yang bersemangat, waspada, dan bertekad bulat.
Cetosamathasāmīciṁ,
Melatih apa yang mengarah pada ketenangan batin,
Training in what leads to serenity of heart,
sikkhamānaṁ sadā sataṁ;
senantiasa sadar setiap saat;
always staying mindful;
Satataṁ pahitattoti,
mereka menyebut bhikkhu demikian sebagai ‘senantiasa bertekad bulat’.
they call such a mendicant
āhu bhikkhuṁ tathāvidhan”ti.
‘seorang bhikkhu yang tekun seperti itu’,”
‘always determined’.”
Dutiyaṁ.
Bagian kedua.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.