an4.122:5.1 Dan apakah, para bhikkhu, bahaya hiu?
an4.122:5.2 Di sini, para bhikkhu, seseorang dari keluarga baik telah meninggalkan kehidupan berumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah karena keyakinan:
an4.122:5.3 ‘Aku telah diliputi oleh kelahiran, penuaan, kematian, kesedihan, ratapan, penderitaan, dukacita, dan keputusasaan; aku diliputi penderitaan, dikuasai penderitaan.
an4.122:5.4 Kiranya akhir dari seluruh kumpulan penderitaan ini dapat diketahui.’
an4.122:5.5 Setelah meninggalkan keduniawian demikian, pada pagi hari ia mengenakan jubah, membawa mangkuk dan jubahnya, lalu memasuki desa atau kota untuk menerima dana makanan tanpa menjaga tubuh, tanpa menjaga ucapan, tanpa menjaga pikiran, tanpa menegakkan perhatian, dan tanpa mengekang indria-indria.
an4.122:5.6 Di sana ia melihat seorang perempuan yang berpakaian minim atau berpakaian terbuka.
an4.122:5.7 Setelah melihat perempuan yang berpakaian minim atau berpakaian terbuka itu, nafsu meliputi pikirannya.
an4.122:5.8 Dengan pikiran yang diliputi nafsu, ia melepaskan latihan dan kembali ke kehidupan rendah.
an4.122:5.9 Ini disebut, para bhikkhu, seorang bhikkhu yang karena takut pada bahaya ikan hiu, melepaskan latihan dan kembali ke kehidupan rendah.
an4.122:5.10 ‘Bahaya ikan hiu’ adalah sebutan untuk perempuan.
an4.122:5.11 Ini disebut, para bhikkhu, bahaya ikan hiu.
an4.122:5.12 Ini adalah empat bahaya yang dapat diharapkan oleh seorang putra keluarga yang telah meninggalkan kehidupan berumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah dalam Dhamma dan Vinaya ini.”
an4.122:5.13 Yang kedua.
