Kathañca, bhikkhave, bhikkhu sotā hoti?
Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu menjadi pendengar?
And how does a mendicant listen?
Gajah Kerajaan
Sutta ini menggunakan perumpamaan yang hidup tentang gajah kerajaan untuk menggambarkan kualitas-kualitas yang harus dikembangkan oleh seorang praktisi. Mari kita simak bagaimana Sang Buddha menguraikan empat kualitas ini dengan analogi yang mendalam.
Dalam sutta ini, Sang Buddha menggunakan perumpamaan gajah kerajaan yang memiliki empat kualitas—mendengarkan, menghancurkan, menahan, dan berlari cepat—untuk mengajarkan empat kualitas seorang bhikkhu yang layak menerima persembahan dan menjadi ladang jasa bagi dunia. Sang Buddha menjelaskan bagaimana seorang bhikkhu harus mendengarkan Dhamma dengan penuh perhatian, menghancurkan pikiran-pikiran buruk, menahan kesulitan fisik dan batin, serta dengan cepat mencapai Nibbāna.
Kathañca, bhikkhave, bhikkhu sotā hoti?
Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu menjadi pendengar?
And how does a mendicant listen?
Idha, bhikkhave, bhikkhu tathāgatappavedite dhammavinaye desiyamāne aṭṭhiṁ katvā manasi katvā sabbacetasā samannāharitvā ohitasoto dhammaṁ suṇāti.
Di sini, para bhikkhu, ketika Dhamma dan Vinaya yang dinyatakan oleh Tathāgata sedang diajarkan, seorang bhikkhu memperhatikan, mengarahkan pikiran, memusatkan seluruh batin, dan mendengarkan Dhamma dengan telinga yang siap.
It’s when a mendicant pays attention, applies the mind, concentrates wholeheartedly, and actively listens when the teaching and training proclaimed by a Realized One is being taught.
Evaṁ kho, bhikkhave, bhikkhu sotā hoti.
Demikianlah, para bhikkhu, seorang bhikkhu menjadi pendengar.
That’s how a mendicant listens.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.