Kāmayogena saṁyuttā,
Terbelenggu oleh belenggu keinginan indrawi,
Yoked to both sensual pleasures
Yogasutta
Sutta ini mengajak kita merenungkan apa saja yang selama ini mengikat kita—baik itu kenikmatan indra, keinginan untuk terus ada, pandangan yang kita pegang, maupun ketidaktahuan kita. Mari kita simak bagaimana Sang Buddha menjelaskan belenggu-belenggu ini dan jalan untuk melepaskannya.
Dalam sutta ini, Sang Buddha mengajarkan tentang empat belenggu (yoga) yang mengikat makhluk pada saṁsāra—belenggu nafsu indra, kelahiran kembali, pandangan, dan ketidaktahuan—serta empat cara melepaskan diri dari belenggu tersebut. Belenggu muncul karena tidak memahami asal-mula, lenyapnya, kepuasan, bahaya, dan jalan keluar dari masing-masing hal itu. Sebaliknya, dengan memahami hal-hal tersebut secara mendalam, seseorang terbebas dari belenggu dan mencapai keamanan sejati (yogakkhema).
Kāmayogena saṁyuttā,
Terbelenggu oleh belenggu keinginan indrawi,
Yoked to both sensual pleasures
bhavayogena cūbhayaṁ;
dan juga oleh belenggu kelahiran kembali;
and the desire to be reborn in a future life;
Diṭṭhiyogena saṁyuttā,
terbelenggu pula oleh pandangan,
yoked also to views,
avijjāya purakkhatā.
dan dikuasai oleh ketidaktahuan,
and governed by ignorance,
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.