Etasmiṁ yaṁ vijjati antare dhanaṁ,
Segala kekayaan yang terdapat di alam ini,
All of the wealth that’s found in this realm—
Uposathasutta
Sutta ini adalah percakapan antara Buddha dan seorang umat awam perempuan bernama Visākhā tentang praktik Uposatha. Mari kita simak bagaimana Buddha menguraikan perbedaan antara sekadar menjalankan ritual, praktik yang keliru, dan praktik yang benar-benar memurnikan batin.
Visākhā, ibu Migāra, mendatangi Buddha pada hari Uposatha dan ditanya dari mana ia datang. Buddha kemudian menjelaskan tiga jenis Uposatha: Uposatha para penggembala sapi yang hanya memikirkan kenikmatan masa depan, Uposatha para Nigaṇṭha (Jain) yang ajarannya tidak konsisten dan penuh kepalsuan, serta Uposatha para mulia yang membersihkan pikiran melalui perenungan terhadap Buddha, Dhamma, Saṅgha, moralitas, dan para dewa, serta menjalankan delapan latihan. Buddha menegaskan bahwa Uposatha para mulia ini jauh lebih berbuah daripada kekuasaan atas enam belas negeri besar, karena dapat membawa kelahiran kembali di alam surga.
Etasmiṁ yaṁ vijjati antare dhanaṁ,
Segala kekayaan yang terdapat di alam ini,
All of the wealth that’s found in this realm—
Muttā maṇi veḷuriyañca bhaddakaṁ;
mutiara, permata, dan juga batu mulia yang indah;
pearls, gems, fine beryl too,
Siṅgī suvaṇṇaṁ atha vāpi kañcanaṁ,
emas gunung atau emas yang berkilau,
mountain gold or lustrous gold,
Yaṁ jātarūpaṁ haṭakanti vuccati.
atau emas murni yang disebut ‘berkilauan’—
or the native gold called ‘coruscant’—
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.