Yadapi, bhikkhave, alobho tadapi kusalamūlaṁ;
Apa pun, para bhikkhu, yang merupakan ketidakserakahan, itu juga adalah akar yang terampil;
Contentment is a root of the skillful.
Akar-Akar Yang Tidak Bermanfaat
Sutta ini mengajak kita merenungkan akar dari tindakan kita sendiri. Perhatikan bagaimana kualitas batin seperti keserakahan, kebencian, dan delusi dapat menjadi sumber penderitaan, dan bagaimana lawan-lawannya membawa pada kebahagiaan sejati.
Dalam khotbah ini, Sang Buddha menjelaskan tiga akar tidak bermanfaat—keserakahan, kebencian, dan delusi—yang menjadi sumber tindakan, ucapan, dan pikiran buruk, serta menyebabkan penderitaan di kehidupan ini dan kelahiran kembali yang buruk. Beliau kemudian menguraikan tiga akar bermanfaat yang berlawanan—ketidakserakahan, ketidakbencian, dan ketidakdelusian—yang melahirkan kualitas-kualitas baik, kebahagiaan, dan kebebasan dari penderitaan di kehidupan ini juga. Sebuah perumpamaan tentang pohon yang tercekik tanaman menjalar digunakan untuk menggambarkan bagaimana akar-akar buruk dapat dicabut sepenuhnya.
Yadapi, bhikkhave, alobho tadapi kusalamūlaṁ;
Apa pun, para bhikkhu, yang merupakan ketidakserakahan, itu juga adalah akar yang terampil;
Contentment is a root of the skillful.
yadapi aluddho abhisaṅkharoti kāyena vācāya manasā tadapi kusalaṁ;
Ketika seseorang yang puas memilih untuk bertindak melalui tubuh, ucapan, atau pikiran, itu pun adalah keterampilan.
When a contented person chooses to act by way of body, speech, or mind, that too is skillful.
yadapi aluddho lobhena anabhibhūto apariyādinnacitto na parassa asatā dukkhaṁ uppādayati vadhena vā bandhanena vā jāniyā vā garahāya vā pabbājanāya vā balavamhi balattho itipi tadapi kusalaṁ.
Ketika seseorang yang puas, tidak dikuasai oleh keserakahan, tidak dikuasai pikirannya, tidak menyebabkan penderitaan pada orang lain dengan alasan yang tidak benar—melalui pembunuhan, pemenjaraan, penyitaan, celaan, atau pengusiran—dengan berpikir 'Aku berkuasa, aku ingin kekuasaan', itu pun adalah keterampilan.
When a contented person, not overcome by greed, doesn’t cause another to suffer under a false pretext—by execution or imprisonment or confiscation or condemnation or banishment—thinking ‘I’m powerful, I want power’, that too is skillful.
Itissame alobhajā alobhanidānā alobhasamudayā alobhapaccayā aneke kusalā dhammā sambhavanti.
Demikianlah banyak hal-hal terampil yang muncul dalam dirinya, lahir dari ketidakserakahan, bersumber dari ketidakserakahan, berasal dari ketidakserakahan, dikondisikan oleh ketidakserakahan.
And so these many skillful things are produced in them, born, sourced, originated, and conditioned by contentment.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.